a

a

q

Early Warning System

Early Warning
System

q

Early Warning
System

Sistem Pendukung Keputusan Berbasis Human-Centric untuk Pendidikan Kejuruan

Sistem Pendukung Keputusan Berbasis Human-Centric untuk Pendidikan Kejuruan

Sistem Pendukung Keputusan Berbasis Human-Centric untuk Pendidikan Kejuruan

Jangka Waktu Pengerjaan

12 Minggu (Proyek Mandiri)

12 Minggu (Proyek Mandiri)

Peran Saya

Business Analyst · Product Strategist

Business Analyst · Product Strategist

Apps yang Digunakan

Figma, Lucidchart, Notion

Figma, Lucidchart, Notion

Figma, Google Forms, Excel, Notion

Proyek Portofolio Mandiri
Data dan permasalahan sekolah adalah real (berdasarkan wawancara/diskusi dengan guru), namun sistem ini belum diimplementasikan secara nyata. Angka proyeksi bersifat estimasi berdasarkan asumsi implementasi.

Proyek Portofolio Mandiri
Data dan permasalahan sekolah adalah real (berdasarkan wawancara/diskusi dengan guru), namun sistem ini belum diimplementasikan secara nyata. Angka proyeksi bersifat estimasi berdasarkan asumsi implementasi.

Proyek portofolio mandiri. Data dan permasalahan sekolah adalah real (berdasarkan wawancara dengan guru), namun sistem ini belum diimplementasikan secara nyata. Angka proyeksi bersifat estimasi berdasarkan asumsi implementasi.

Proyek portofolio mandiri. Data dan permasalahan sekolah adalah real (berdasarkan wawancara dengan guru), namun sistem ini belum diimplementasikan secara nyata. Angka proyeksi bersifat estimasi berdasarkan asumsi implementasi.

Executive Summary

SMK Nusantara Jaya (total 847 siswa) mencatat tingkat drop-out sebesar 3,72% dan pindah sekolah akibat tidak naik kelas sebesar 2.16% pada TA 2023/2024. Nilai ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar 2.85% dan 1.37%. Masalah utamanya karena data yang ada terfragmentasi dan bersifat statis.

Dampaknya:

  • Wali kelas baru menerima laporan absensi di hari ke-3 bulan berikutnya

  • Penurunan performa akademik baru terlihat di bulan ke-4 hingga ke-5

  • Intervensi dilakukan saat siswa sudah berada di fase sulit dipulihkan

Target saya: Memangkas waktu deteksi risiko untuk mengoptimalkan pencegahan drop-out dan pindah sekolah akibat tidak naik kelas pada siswa SMK dari >4 minggu menjadi <5 hari melalui sistem deteksi dini (early warning) berbasis dual-path scoring.

SMK Nusantara Jaya (total 847 siswa) mencatat tingkat drop-out sebesar 3,72% dan pindah sekolah akibat tidak naik kelas sebesar 2.16% pada TA 2023/2024. Nilai ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar 2.85% dan 1.37%. Masalah utamanya karena data yang ada terfragmentasi dan bersifat statis.

Dampaknya:

  • Wali kelas baru menerima laporan absensi di hari ke-3 bulan berikutnya

  • Penurunan performa akademik baru terlihat di bulan ke-4 hingga ke-5

  • Intervensi dilakukan saat siswa sudah berada di fase sulit dipulihkan

Target saya: Memangkas waktu deteksi risiko untuk mengoptimalkan pencegahan drop-out dan pindah sekolah akibat tidak naik kelas pada siswa SMK dari >4 minggu menjadi <5 hari melalui sistem deteksi dini (early warning) berbasis dual-path scoring.

Konteks Masalah

  1. Root Cause Analysis - Fishbone

Setelah mewawancarai Kepala Sekolah, 4 guru, dan 2 wali kelas, permasalahan yang dihadapi SMK Nusantara Jaya mengerucut pada:

1. Sisi Presensi: Keterlambatan Respons

Data absensi dicatat manual. Wali kelas baru menyadari siswa bermasalah setelah absensi menumpuk >14 hari (sudah melewati batas kritis). Secara regulasi, intervensi seharusnya dilakukan sejak 3 hari pertama.

2. Sisi Akademik: Kurangnya Visibilitas pada Tren Nilai

Guru mata pelajaran mencatat nilai di Excel/kertas pribadi. Karena tidak ada sistem yang membandingkan tren nilai secara otomatis, penurunan performa siswa baru terdeteksi di akhir semester (minggu ke-8 ke atas). Saat wali kelas menerima laporan, nilai siswa sudah di bawah KKM.

3. Data Terfragmentasi: Tidak Ada Single Source of Truth

Data absensi dipegang TU, data nilai dipegang guru mapel, data konseling dipegang BK. Tidak ada satu tempat yang menyatukan semua informasi. Wali kelas harus mencocokkan data dari 3 sumber berbeda yang menghabiskan 4-6 jam per minggu hanya untuk administrasi.

Melalui wawancara dengan wali kelas dan guru mata pelajaran, saya mengidentifikasi hambatan utama guru dalam melakukan intervensi bukan karena tidak adanya kepedulian guru, melainkan karena data yang ada bersifat statis dan beban administrasi guru yang tinggi.

Saya kemudian memetakan akar masalah diatas ke dalam 5 kategori:

Kategori

Akar Masalah

Proses

Pencatatan data manual dan bersifat batch (bulanan)

Data

Absensi dan performa akademik tidak terintegrasi

SDM

Beban kerja guru tinggi (multiple classes)

Sistem

Tidak ada mekanisme risk scoring otomatis

Monitoring

Tidak ada sistem alert/notifikasi

Kelima faktor ini secara kolektif menyebabkan identifikasi siswa berisiko bergantung pada lagging indicators (kondisi sudah kritis), bukan leading indicators (sinyal awal).

  1. Pareto Prioritization

Dari akar masalah diatas, saya memprioritaskan dua yang paling berdampak:

  1. Keterlambatan deteksi (prioritas tertinggi), karena hilangnya kesempatan intervensi tidak bisa diperbaiki setelah siswa dropout.

  2. Tidak ada mekanisme risk scoring (prioritas kedua), karena tanpa alat bantu yang baku, penilaian risiko tetap subjektif.

Dua masalah ini berkontribusi paling besar terhadap kegagalan sistem saat ini. Dan masalah lainnya (data tidak terintegrasi, monitoring manual, dan beban kerja guru) akan ikut terselesaikan saat sistem EWS terimplementasi.

Untuk memastikan prioritas saya tepat, saya memvalidasi dengan data historis:

Akar Masalah

Akar Masalah

Dampak Kuantitaitf

Dampak Kuantitaitf

Keterlambatan deteksi

Siswa dropout rata-rata terdeteksi setelah >30 hari absensi, ini melebihi batas kritis 14 hari

Tidak ada Risk Scoring

Berdasarkan data sekolah, dari 31 siswa dropout, hanya 6 siswa (19,4%) yang mendapat intervensi sebelum keputusan dropout

Data tidak terintegrasi

Wali kelas menghabiskan 4-6 jam per minggu mencocokkan data dari 3 sumber berbeda

Data ini mengkonfirmasi bahwa keterlambatan deteksi dan ketiadaan risk scoring adalah prioritas utama.

  1. BPMN AS-IS: Pemetaan Proses Saat Ini

Saya memetakan proses berjalan menggunakan BPMN untuk mengidentifikasi titik kegagalan spesifik.

BPMN AS IS Process Map

  1. BPMN To-Be: Pemetaan Proses Setelah Sistem

BPMN TO BE Process Map

Berdasarkan analisis AS-IS, saya merancang proses baru dengan 5 perubahan utama:

Perubahan 1: Penambahan mesin risk scoring otomatis

  • Dijalankan setiap hari pukul 17.00 WIB

  • Menghitung skor berdasarkan 3 kriteria (AHP): Absensi (50%), Akademik (40%), Riwayat (10%)

Perubahan 2: Klasifikasi risiko tiga tingkat

  • Skor < 40 = Risiko Tinggi

  • Skor 40-65 = Risiko Sedang

  • Skor > 65 = Risiko Rendah

Perubahan 3: Alert otomatis sesuai tingkat risiko

  • Risiko Tinggi → Notifikasi ke Wali Kelas + Guru BK (prioritas segera)

  • Risiko Sedang → Notifikasi ke Wali Kelas saja (prioritas normal)

  • Risiko Rendah → Tidak ada alert

Perubahan 4: Pencatatan intervensi wajib

  • Wali Kelas wajib mencatat tindakan dan hasil intervensi

  • Alert hanya hilang jika ada catatan aksi

Perubahan 5: Laporan berkala ke Kepala Sekolah

  • Rekap mingguan dikirim setiap Senin pagi (sesuai permintaan Kepala Sekolah dalam wawancara)

Logika Keputusan & Parameter Risiko

  1. Dual Path Risk Detection

Early Warning System (EWS) menggunakan pendekatan dual-path risk detection untuk mengidentifikasi siswa yang berisiko lebih awal. Sistem memisahkan analisis menjadi dua jalur utama:

  • Risiko Absensi untuk mendeteksi pola ketidakhadiran siswa

  • Risiko Performa Akademik untuk memantau penurunan performa akademik

Kedua jalur ini dianalisis secara paralel sebelum dihitung dalam risk scoring system berbasis AHP. Pendekatan ini membantu sekolah memahami apakah risiko berasal dari kehadiran, performa belajar, atau kombinasi keduanya.

Dengan pemisahan ini, sistem dapat memberikan sinyal intervensi yang lebih akurat dan terarah.

  1. Risk Scoring (AHP-Based)

Setiap indikator risiko dihitung menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menghasilkan skor risiko siswa. Sistem memberikan bobot pada setiap indikator:

  • Absensi (50%) sebagai sinyal disengagement paling awal

  • Performa Akademik (40%) sebagai indikator kesulitan belajar

  • Riwayat Tinggal Kelas (10%) sebagai faktor historis

Hasil perhitungan AHP menghasilkan risk score yang digunakan untuk menentukan level peringatan dan prioritas intervensi. Skor ini ditampilkan langsung pada dashboard wali kelas untuk memudahkan pengambilan keputusan.

  1. Pemulihan Bertahap

Untuk menjaga pendekatan yang tepat bagi siswa, sistem menerapkan pemulihan bertahap dalam perhitungan skor risiko. Ketika siswa mulai menunjukkan perbaikan seperti hadir kembali ke sekolah, nilai mulai stabil, mengikuti pembelajaran, maka skor risiko tidak langsung hilang, tetapi akan menurun secara bertahap selama 14 hari. Pendekatan ini memastikan:

  • intervensi tetap konsisten

  • guru tetap memantau perkembangan siswa

  • perbaikan perilaku dihargai secara bertahap

  • sistem tidak terlalu reaktif terhadap perubahan jangka pendek

Dengan mekanisme ini, EWS berfungsi sebagai decision support system yang stabil, adaptif, dan berorientasi pada perkembangan siswa.

Landasan Etis

  1. Filosofi Sistem: Kepedulian Berbasis Data

Sistem ini dirancang bukan sebagai alat pengawasan, melainkan sebagai instrumen kesejahteraan (welfare-first tool). Mengingat banyak siswa menghadapi kerentanan seperti tinggal jauh dari orang tua atau kesulitan ekonomi, kami melihat ketidakhadiran bukan sebagai pembangkangan, melainkan sebagai sinyal kerentanan yang membutuhkan dukungan.

Integrasi Pilar Etis dan Operasional

Integrasi Pilar Etis dan Operasional

Untuk mewujudkan visi tersebut, arsitektur sistem kami berpijak pada empat prinsip utama:

  1. Intervensi yang Humanis: Data dikumpulkan untuk memicu dialog dan dukungan dini, bukan sanksi. Setiap peringatan (alert) dibingkai sebagai sinyal kepedulian untuk memahami konteks masalah siswa, bukan untuk mencari kesalahan.

  2. Keputusan Berbasis Bukti: Sistem EWS tidak dapat mengambil keputusan otomatis terkait nasib akademik siswa. Sistem hanya menyajikan bukti terstruktur yang membantu pengambil keputusan (manusia) tetap objektif dan adil.

  3. Penghormatan pada Otoritas: Teknologi ini memperkuat hierarki pendidikan yang ada. Guru mata pelajaran tetap memegang otoritas akademik, Wali Kelas mengoordinasikan dukungan, dan Kepala Sekolah memegang kendali keputusan akhir.

  4. Data sebagai Pelindung: Privasi dan data siswa digunakan secara eksklusif untuk melindungi hak-hak mereka. Skor risiko yang muncul berfungsi sebagai navigasi untuk memberikan perlindungan, bukan sebagai mekanisme kontrol atau pemantauan yang represif.

Sistem ini hadir untuk memastikan tidak ada siswa yang "terlupakan" oleh keadaan, dengan mengubah data mentah menjadi tindakan nyata yang penuh empati.

Arsitektur Sistem

  1. Diagram Konteks Sistem

Diagram ini mengilustrasikan bagaimana Early Warning System terintegrasi dengan catatan sekolah dan berinteraksi dengan entitas eksternal dalam fungsinya untuk memantau kondisi siswa serta menginisiasi dukungan tepat waktu.

  1. Layered Architecture

Diagram ini menggambarkan arsitektur berlapis Early Warning System (EWS) yang memisahkan antarmuka pengguna dan logika pemrosesan data, sehingga wali kelas dapat memantau kondisi siswa dengan mudah sementara sistem secara otomatis memproses data presensi dan akademik menjadi risk score dan sinyal intervensi.

Create a free website with Framer, the website builder loved by startups, designers and agencies.